Desa Suka Maju
Kecamatan Putussibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu
Sejarah

JEJAK SEJARAH DESA SUKA MAJU
Dari Benteng Lunsara Hingga Menjadi Perkampungan Dakwah Mandiri
- Awal Mula: Pulau Lunsara dan Suasana Pra-1940
Nama Lunsara berakar dari bahasa suku Taman yang berarti "Pulau Besar". Jauh sebelum era 1940-an, kawasan ini bukanlah sebuah pemukiman permanen bertata ruang, melainkan sebuah pelabuhan persinggahan alami bagi para perantau Melayu dan berbagai etnis yang menelusuri derasnya alur Sungai Kapuas. Mereka mengarungi sungai menuju hulu demi mengadu nasib, mengumpulkan hasil hutan yang melimpah seperti damar dan rotan saka.
Pada masa itu, perahu dayung adalah satu-satunya urat nadi transportasi. Para perantau biasanya berkumpul di Putussibau untuk menyiapkan perbekalan. Mengawali kayuhan sejak subuh sekitar pukul 05.00 pagi, perahu-perahu mereka diperkirakan menepi di Pulau Lunsara saat petang menjelang, sekitar pukul 18.00 sore. Lunsara pun menjadi tempat tambat utama setelah seharian menembus riak Kapuas.
Kala cuaca buruk menerjang atau gelombang Kapuas membesar, para perantau terpaksa menepi dan menginap selama berhari-hari. Tak ingin waktu terbuang sia-sia, tangan-tangan tangguh mereka mulai menebas semak, membuka ladang, dan menanam tanaman di tepi sungai. Dari ketekunan kecil di tepi sungai inilah, benih-benih kehidupan awal mulai bersemi, mengikat hati para perantau pada tanah Lunsara.
- Benteng Lunsara: Simbol Harmoni dan Perlindungan Antar-Etnis
Sejarah Lunsara juga diwarnai oleh latar belakang era tradisi ngayau (perburuan kepala sebagai simbol keberanian dan perlindungan wilayah). Wilayah hulu kala itu sering dilanda ancaman pasukan Bala Leju dari batang Lupar suku Iban serta Dayak Tebidah, yang datang mengarungi sungai menggunakan perahu-perahu panjang berisikan 12 hingga 15 prajurit.
Di tengah situasi keamanan yang rawan tersebut, muncul sosok pemimpin berkearifan lokal: Temenggung Tapak Rajang dari Nanga Erak. Dengan kebesaran jiwa dan visi kedamaian, beliau mempersilakan para perantau untuk bermukim dan menetap dengan aman di Pulau Lunsara.
Secara geopolitik dan pertahanan, keberadaan komunitas Melayu di Lunsara memiliki nilai yang sangat strategis. Kawasan ini secara alami bertindak sebagai benteng pertahanan terdepan (outpost) bagi masyarakat Dayak lokal. Kehadiran warga Lunsara turut memagari dan melindungi wilayah pemukiman dari potensi serangan luar. Pertautan ini menjadi bukti sejarah yang indah tentang persaudaraan, toleransi, dan ikatan simbiotis antar-etnis yang telah terjalin erat jauh sebelum istilah akulturasi dikenal luas.
- Generasi Perintis dan Pergeseran Pemukiman (1940–1950)
Sekitar tahun 1940, babak baru dimulai ketika generasi perintis mulai mendirikan fondasi pemukiman permanen di Pulau Lunsara. Tokoh-tokoh pahlawan pembuka jalan tersebut beserta silsilah keluarga mereka di antaranya :
- Ai Usan (Mendalam) — Orang tua dari Pak Ibrahim (M. Ilyas, Yunus, Bakhtiar, Molyadi, Nurjani, dll).
- Imam Alai — Orang tua dari Masran, Imung dan Samsudin.
- Ai Miring (Boyan) — Orang tua dari Ulak Todong.
- Itam Bujang Bukah — Orang tua dari Piah, Amat, Comat, Cik Rasid, Sa’amah, Lamid, dan Syahril.
- Ayah Mansur — Orang tua dari H. Uju Inal, H. Sa’at, H. Tahir, H. Ipon, dan Siti.
- Ai Senar — Orang tua dari Adam Japar.
- Pak Jalil — Orang tua dari Abdussamad.
- Ai Salan — Orang tua dari Inak Uyah (istri Pak Japar).
- Dolah / Ai Nsilat — Orang tua dari Pak Ngah (Abdussamad), Saenah, Seniah, Dimah, Meliah, dan Inung.
- Kebayan Junan — Orang tua dari Ramat Iman.
- Ali Tempiau (Dijuluki demikian karena keahliannya memanjat bagaikan kera tempiau) — Orang tua dari Pak Yusup, Rape’ah, dll.
- Manap — Orang tua dari Zubaidah (istri Ali Delah; orang tua dari Mohtar Jaya, Imin, Rakimah, Mahidin, Ani AE, Ida Man, dan O’ot).
- Abang Yaman — Orang tua dari :
- Seniah Binti Yaman (orang tua Ab. Moin)
- Dara (orang tua Bakar)
- Massalamah (orang tua H. Udet)
- Nuraini (orang tua Arpan, Thalib, dll.)
- Sumi (orang tua Ismail, dll.)
- Abang Ahmad (orang tua Aron, Lai, Agok)
- Masjibah (orang tua Moher, dll.)
- Mas Ayu (orang tua Mohlis, Nasution, dll.)
- Siti Aminah (orang tua Iyak Dot, dll.)
- Penghulu Putet — Orang tua dari H. Hadrak, H. Husen, Ijah, Ulak Odoi, dll.
Masyarakat awal ini membina kehidupan di tapak asli Pulau Lunsara hingga tahun 1950. Seiring berkembangnya jumlah warga dan kebutuhan akan lahan yang lebih memadai, secara bergotong-royong pemukiman dipindahkan menyeberangi Sungai Kapuas menuju lokasi Desa Suka Maju yang kita kenal hari ini.
- Kepemimpinan dari Masa ke Masa
Perjalanan Lunsara hingga menjadi Desa Suka Maju ditopang oleh kepemimpinan lokal yang penuh dedikasi :
|
No |
Periode Jabatan |
Nama Pemimpin |
Catatan & Peran Sejarah |
|
1 |
1940 – 1950 |
Manap |
Kepala Kampung Pertama di tapak asli Pulau Lunsara. |
|
2 |
1950 – 1960-an |
Ai Salan, dilanjutkan Adam |
Memimpin era transisi kepindahan permukiman menyeberangi Sungai Kapuas. |
|
3 |
1969 |
Yunan |
Melanjutkan konsolidasi kelembagaan kampung. |
|
4 |
1978 |
Ibrahim Luhat |
Menjaga stabilitas tata kelola pemukiman. |
|
5 |
1978 – 1988 |
Abdussamad |
Memimpin penguatan sosial dan pembinaan warga. |
|
6 |
Pasca-1988 |
Abdurrahim, dilanjutkan Wakasman |
Membawa desa memasuki era penataan administrasi awal. |
|
7 |
2004 – 2010 |
Bakhtiar |
Menjalankan roda pemerintahan desa di era reformasi. |
|
8 |
2010 – 2016 |
Mohlis Raya |
Memimpin transformasi pasca-penetapan nama resmi desa. |
|
9 |
2016 – 2022 |
Adam |
Menguatkan pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan. |
|
10 |
2022 – Sekarang |
Hasbi |
Membawa desa memasuki era Perkampungan Dakwah. |
- Penetapan Nama Legitim: "Desa Suka Maju" (2009)
Titik balik administrasi desa terjadi pada tahun 2009 melalui pengesahan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Kapuas Hulu Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pembentukan Desa dan Dusun.
Melalui payung hukum ini, nama Desa Suka Maju diresmikan secara legal menggantikan nama Lunsara untuk tingkatan pemerintahan desa. Pemilihan nama "Suka Maju" bukanlah sekadar pergantian identitas formal, melainkan untaian doa dan cita-cita luhur. Nama ini memancarkan harapan agar seluruh masyarakatnya senantiasa bergerak maju, sejahtera, berdaya saing, dan hidup harmonis—tanpa sedikit pun melupakan akar sejarahnya sebagai keturunan para penjelajah tangguh dan benteng pelindung leluhur Lunsara.
- Inovasi dan Identitas Baru: Perkampungan Dakwah (2022–Sekarang)
Memasuki babak modern di bawah kepemimpinan Hasbi sejak tahun 2022, Desa Suka Maju kembali mengukir prasasti peradaban. Melalui kolaborasi strategis bersama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kabupaten Kapuas Hulu, desa ini memancangkan identitas baru sebagai Perkampungan Dakwah.
Transformasi ini tidak hanya berfokus pada penguatan aspek keagamaan semata, tetapi mengintegrasikan tiga pilar kemandirian desa :
- Pendidikan & Pembinaan Keagamaan: Membentuk karakter masyarakat yang berakhlak mulia, berbudi luhur, dan menjunjung tinggi toleransi.
- Pemanfaatan Teknologi Tepat Guna: Mengadopsi inovasi teknologi guna mempermudah serta meningkatkan kualitas hidup warga.
- Pengembangan Sektor Pertanian: Membangun ketahanan pangan dan menguatkan fondasi ekonomi warga berbasis potensi lokal.
Pesan Nilai & Inspirasi Sejarah
"Perjalanan panjang Desa Suka Maju mengajarkan kepada kita bahwa garis sungai dan batas wilayah bukan sekadar pemisah di peta, melainkan jembatan persaudaraan. Dari sebuah pelabuhan persinggahan perahu dayung di tepi Kapuas hingga menjelma menjadi Perkampungan Dakwah yang mandiri, Desa Suka Maju membuktikan bahwa ketangguhan, keterbukaan hati, dan tekad untuk terus 'maju' adalah kunci utama dalam membangun peradaban yang mulia dan tak lekang oleh waktu."
Catatan Tambahan :
Naskah ini merupakan bagian awal dari penyusunan rekam jejak Sejarah Desa Suka Maju. Narasi lengkap akan terus disempurnakan seiring dihimpunnya data dan sumber yang lebih komprehensif.
Narasumber :
- Abdullingki
- Abdul Moin

Fulan
01 Agustus 2026 21:59:51
Kati udah talah nak ditanam...